IDE CERDAS

Ada belasan, mungkin puluhan atau bahkan ratusan ide yang saya miliki. Ide yang kesemuanya ingin sekali saya wujudkan. Namun dari banyaknya ide itu, saya akan menuliskan ide-ide yang menurut saya sangat bermanfaat bagi siapapun, terutama ide dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Ide untuk mensejahterakan masyarakat khususnya generasi muda yang saat ini masih menganggur, atau kelompok tani, kelompok desa, dll yang memang ingin lebih sejahtera dalam hal ekonomi, dapat anda peroleh disini. Selain isinya yang saya pastikan STREET SMART atau Cerdas Jalanan, artinya bisa dipraktekkan dan nggak kebanyakan teori, juga bisa menghasilkan income / pendapatan yang besar.
Kenapa saya menuliskan ide-ide mensejahterakan masyarakat? Mungkin karena saya merasa pemerintah kita (kebanyakan) yang seharusnya pekerjaannya mensejahterakan masyarakat malah sebaliknya, jangankan berbuat untuk rakyat, sekedar mikir kebutuhan dan solusi untuk rakyat saja banyak yang tidak sempat, karena terlalu mementingkan kepentingan pribadi.

Baiklah, tidak lama-lama lagi. Langsung saja kita masuk ke ide pertama saya, yang saya beri judul :

PENINGKATAN KESEJAHTERAAN MASYARAKAT DENGAN SISTEM GABUNGAN ARISAN DAN KOPERASI

Terpikir oleh saya sewaktu melihat masyarakat yang begitu banyak berada dibawah garis kemiskinan. Bagaimana agar mereka tanpa meninggalkan pekerjaannya yang sekarang (yang walaupun kurang mencukupi biaya hidup), bisa mendapatkan penghasilan tambahan?

Ide ini muncul ketika saya melihat begitu banyak fenomena di masyarakat yaitu ARISAN. Namun sayangnya arisan sampai sekarang belum bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Selain itu saya tergelitik dengan pidato seorang pejabat, yang mengatakan bahwa KOPERASI adalah tonggak ekonomi bangsa. Namun bagi saya, apa bener? Kenyataannya anggota koperasi tidak segera meningkat kesejahteraannya.

Saya menggabungkan 2 konsep dasar tersebut. Teknisnya sebagai berikut :

1. Buat kelompok arisan, terdiri dari misal 40 orang
2. Tentukan sektor usaha yang akan digarap, misalnya PETERNAKAN KAMBING
3. Simpanan wajib arisan Rp. 10.000/orang, berarti Rp. 10.000 x 40 orang = Rp. 400.000,-
4. Iuran arisan sebesar Rp. 30.000,-/bulan
Dengan biaya arisan sebesar Rp. 30.000 x 40 orang = Rp. 1.200.000/bulan

5. Dari anggota arisan, buat susunan pengurus yang jelas, minimal pengurus inti, misal :
Ketua :
Sekretaris I :
Sekretaris II :
Bendahara I :
Bendahara II :
6. Buat kandang kambing sederhana dari uang simpanan wajib yang kira-kira cukup untuk menampung beberapa ekor kambing.
7. Setelah itu, adakan arisan. Kocok siapa yang dapat. Misalkan yang dapat arisan Bapak Ahmad. Uang Rp. 1.200.000,- tidak diserahkan kepada Bapak Ahmad, melainkan diserahkan kepada Pengurus Harian.
Tugas pengurus harian adalah membeli anak kambing 3 ekor untuk dibesarkan. Berarti masing-masing kambing harganya Rp. 400.000,- (dengan harga ini, bisa mendapatkan anak kambing yang sudah cukup besar)
3 ekor kambing ini bukan Pak Ahmad yang merawat dan membesarkan, melainkan pengurus.
Bulan berikutnya ketika arisan juga dilakukan hal seperti diatas.

SISTEM KERJA PENGURUS ARISAN :
– Rp. 1.200.000,- dari peserta arisan yang mendapatkan arisan diinvestasikan untuk membeli kambing.
– Misal 1 tahun kemudian (dalam contoh diatas) Bapak Ahmad menjual 3 ekor kambingnya dengan asumsi terjual Rp. 1.250.000,- / ekor, maka perhitungannya adalah :
3 ekor kambing x Rp. 1.250.000,- = 3.750.000,-
Modal pak Ahmad Rp. 1.200.000,-
Berarti keuntungan adalah : Rp. 3.750.000 – Rp. 1.200.000 = Rp. 2.550.000,-

BAGI HASIL DENGAN KELOMPOK ARISAN ADALAH 50%:50% DARI KEUNTUNGAN, BUKAN DENGAN MODAL, jadi :
Pemilik (Bp. Ahmad ) : 50% x Rp. 2.250.000 = Rp. 1.275.000,-
Kelompok Arisan : 50% x Rp. 2.250.000 = Rp. 1.275.000,-

Uang modal Rp. 1.200.000,- dari Bapak Ahmad dibelikan anak kambing lagi untuk diurus oleh pengurus.

Berarti hanya dari pejualan pertama kambing pak Ahmad, kelompok arisan telah memiliki Rp. 1.275.000,-. Tentunya pendapatan ini masih kotor sebelum dikurangi biaya perawatan dan Insentif para pengurus. Untuk menentukan besarnya insentif pengurus dan pegawai yang bertugas merawat kambing, sebenarnya bisa digunakan sistem bagi hasil juga. Misalnya :
Insentif pengurus : 10% dari keuntungan bagi hasil setiap penjualan

Berarti besarnya :10% x Rp. 1.275.000 = Rp. 127.000,-
Insentif pekerja kandang/pencari rumput :50% x 1.275.000 = Rp. 637.500,-

Berarti masih ada KAS UNTUK KELOMPOK ARISAN Rp. 510.500,-
Kas bisa digunakan untuk biaya operasional lainnya dan jika masih ada sisa kas, maka digunakan untuk membeli kambing. Kambing ini adalah milik bersama, bukan perseorangan peserta. Hasil penjualan kambing dari kas ini keuntungannya dibagi merata untuk peserta.

Dengan jumlah 40 0rang peserta maka Kelompok arisan akan merawat paling sedikit 120 ekor kambing.

Keuntungan Sistem ini :
1. Meningkatkan kesejahteraan, karena uang arisan dapat dikembangkan.
2. Minim resiko. Sebenarnya sistem “Maro” atau bagi ini sudah ada sejak lama di indonesia, namun resikonya jika ini dijalankan oleh perseorangan, maka jika kambing yang dirawat mati, maka investor, atau pemilik modal rugi. Dengan sistem ini, jika kambing mati, maka akan diganti oleh pengurus dari uang kas. Misal walaupun kambingnya sudah besar yang mati, kewajiban pengurus adalah membelikan yang masih anakan, harga sekitar Rp. 400.000,-. Jadi dengan cara ini, pemilik modal lebih terlindungi.
3. Pemilik modal/peserta arisan tidak perlu repot-repot mikir bagaimana mengembangkan uangnya.
4. Peserta tidak perlu terjun langsung untuk mengurus kambing yang dimilikinya.
5. Pemilik memiliki asset yang bisa dijual sewaktu-waktu.
6. Mengurangi pengangguran dengan adanya peternakan kambing didesa.
7. Pemilik modal akan terus diputar seumur hidup karena modal tidak bisa diambil kecuali karena hal tertentu.
8. Adanya SHU (Sisa Hasil Usaha) dari penjualan kambing arisan dan pembagian keuntungan untuk seluruh peserta dari keuntungan penjualan kambing yang dibeli dari uang kas.

Demikian ide saya, semoga bermanfaat. Untuk konsultasi lebih jelasnya silakan tinggalkan komentar, saya akan membantu anda dengan senang hati.

Responses

  1. bagus juga konsepnya… tapi yang jadi contoh kambing!!!

    kalo si kambing itu sakit, trus mati. anggota nggak mau tahu. anggota taunya UNTUNG!!!…

    gimana kalo begitu…

    • kalau kambingnya mati tidak ada yang rugi, asal tidak mati semua. Karena jika ada kambing yang mati, itulah saatnya menggunakan uang bagi hasil (yang sudah dikurangi biaya operasional tentunya). Disini pengurus tidak perlu pusing, anggota tidak akan merugi. Inilah hebatnya sistem gabungan arisan dan koperasi.

  2. mas,kalau saya lihat seperti dana patungan biasanya.terus kalau menunggu 1 tahun kelamaan mas. Untuk prakteknya sudah dilaksanakan di daerah mana mas?

    • Memang patungan, semacam arisan tetapi kelebihannya adalah menghilangkan resiko yang terjadi jika memelihara sendiri, misal resiko kematian hewan, dan bisa memberikan keuntungan besar, karena jika berkembang, selain kita mendapat hasil dari hewan yang kita pelihara sendiri, juga mendapat dari komunitas/koperasi, semacam SHU tahunan.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: