Posted by: bengkoang | February 16, 2009

TIPS BERANI MEMULAI BISNIS

Apa yang diperlukan oleh seseorang untuk berani memulai berbisnis :

1. Modal / Uang

2. Keterampilan/pendidikan

3. Peluang Yang Besar / Pasti Menguntungkan

4. Keberuntungan.

Hal diatas menurut saya adalah dasar-dasar entrepreneurship ala “pecundang”. Kenapa saya katakan begitu tegas, keras dan kasar? Karena tipe orang yang mengatakan alasan berani memulai usaha seperti alasan diatas adalah orang yang sebenarnya hanya mencari-cari alasan saja.

Saya akan bahas satu-persatu agar anda jelas.

1. Modal / Uang

Modal bagi para pecundang konotasinya adalah materi berupa uang. Mereka pikir / beralasan, jika saya punya modal, maka saya berani membuka usaha. OK, benarkah itu??? Benarkah alasan kalo orang punya uang dia berani usaha? Faktanya adalah :

– Banyak PNS / Karyawan Kantor / Pejabat yang jelas-jelas orang yang punya uang, tapi tidak semua berani buka usaha.

– Anak orang kaya, anak pejabat, anak pengusaha, tidak semuanya berani berbisnis/membuka usaha.

– Bahkan, saya akan bercerita sedikit, seorang teman saya yang kebetulan tetangga rumah saya, belum lama ini mendapatkan hadiah undian uang tunai Rp. 50 juta dari Bank tempat dia menabung. Apa yang dilakukannya? Membeli sepeda motor, membeli peralatan-peralatan rumah yang sebelumnya tidak terbeli dengan penghasilannya sendiri. Alokasi untuk usaha? belum terpikirkan.

 

Dan fakta kembali :

– Banyak disekitar kita yang tadinya adalah orang miskin, dari golongan tidak mampu, tapi sekarang memiliki usaha besar.

– Kembali saya akan bercerita tentang tetangga samping saya (yang tadi belakang rumah), 8 tahun yang lalu dia adalah seorang tukang payung keliling (betulin payung keliling ke rumah-rumah).

Kemudian dia menjadi seorang pemulung, kemudian dia menjadi bos kecil dari pemulung, kemudian dia menjadi bos besar pemulung. Di rekeningnya saja pas kebetulan saya ngantre di loket BCA, dia minta tolong saya untuk cek buku tabungannya.

Berapa menurut anda jumlah rekening dari seorang pemulung? RP. 100.000? Rp. 200.000? SALAH

Saya sempat kaget juga melihat angka nolnya. Lebih dari Rp. 1,5 miliar! padahal saya tahu persis dia kemarin baru saja membeli tanah seharga Rp. 180 Juta, dan selilih sebulan membeli rumah yang langsung direhab senilai lebih dari Rp. 200 juta.
Di rumahnya yang ngontrak sekarang nongkrong sebuah truk milik sendiri, sepeda motor, dan berbagai barang lainnya.

Yang ingin saya tanyakan kepada pembaca adalah, kenapa dia bisa sesukses itu? Jika karena modal, tidak sama sekali. Jika karena pendidikan tinggi,  tidak sama sekali. Jika karena beruntung, banyak orang bilang beruntung itu hanya sekali-sekali saja, tidak terus-terusan.

Inti dari poin ini adalah, untuk membuka usaha tidak harus dengan modal uang. Uang itu nomor kesekian. Masih tidak percaya? Satu lagi kisah yang akan saya ceritakan, namun ini bukan kisah orang lain. Ini adalah kisah saya. Cukup panjang, namun anggap saja anda sedang membaca novel….

Ketika aku semester 2 waktu masih kuliah di Universitas Darul ‘Ulum Jombang Jawa Timur, ayahku sakit, padahal sebagaimana anak kuliahan lainnya, biaya untuk kuliah biasanya dari orang tua, khususnya ayah. Dengan penyakit beliau yang parah, ditambah usianya yang sudah tua, yang memaksanya untuk tidak bisa lagi bekerja.

Sebagai seorang anak, tidak sampai hati aku harus membebani beliau untuk membiayai kuliahku. Ayah lebih senang menahan sakitnya daripada harus dibawa ke Rumah Sakit. Katanya biayanya pasti banyak. Darimana kami bisa dapat uang. Semua orang menyuruh opname di rumah sakit, tetapi ayah tetap menolak. Saudara banyak yang jengkel, sampai kadang keluar omelan, sudah sakit disuruh ke rumah sakit susah! Sebenarnya bukan masalah rumah sakitnya, masalahnya biayanya dari mana?

Sering ibuku menitikkan air mata sedih karena terkadang kami tidak bisa berbuat apa-apa untuk kesembuhan beliau.

Pilihan untuk aku adalah berhenti kuliah atau melanjutkan dengan biaya sendiri. tapi untuk melanjutkan dengan biaya sendiri, darimana uangnya sedangkan aku tidak bekerja dan belum pernah bekerja. Untuk melamar kerjaan tidak mungkin karena aku masih kuliah. mencar kerja paruh waktu, gajinya pasti tidak cukup.

Akhirnya pada awal semester 3, diruang tamu, ketika kedua orang tuaku sedang duduk disitu, aku menyampaikan suatu keputusan yang menurutku keputusan berat, terlalu berani dan mungkin sangat nekat.

“Mulai bulan ini, ayah dan ibu sudah tidak usah mengirimi saya uang lagi. Semua biaya biar saya tanggung sendiri” begitu ucapku kala itu.

“loh, terus nanti uangnya kamu dari mana?”


Responses

  1. curhat ya bos…

  2. sampai terharu….

  3. begitulah, ini hanya sebagian kisah hidup saya. beberapa kisah sangat berat dibanding kisah diatas. Bukan hanya bertujuan curhat, tetapi berbagi pengalaman, semoga memberikan pelajaran dan manfaat bagi orang lain.

  4. trs gmn kelanjutannya bang?heee

  5. saya ingin kisah lanjutnya ,mohon dikirim ke Email : umihanikmasitoh@yahoo.co.id
    Trm ksh

  6. trus endingnya gmana ne bos..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: